Di suatu lembah, berdirilah sebuah kerajaan peri yang makmur. Para peri disana suka sekali terbang, tapi ada satu peri yang setiap hari hanya duduk terdiam dipinggir danau, banyak peri-peri muda yang memanggilnya peri pemalas. Peri nala namanya.
Tidak
ada yang berbeda dari Nala, malah bisa dikatakan dia adalah salah satu peri yang
punya sayap tercantik di kerajaan itu. Ia bukanlah peri pemalas, dia hanya
seorang peri yang penakut. Karena itu, ia hanya bisa berjalan-jalan
dengan kaki menyusuri hutan-hutan, bahkan bercanda gurau dengan teman-temannya
yang kebanyakan hewan liar. Ia lebih suka seperti itu daripada bergaul dengan
peri-peri lain.
Tetua kerajaan
telah mengumumkan bahwa akan ada festival untuk merayakan kemenangan yang
selalu diadakan setiap tahunnya. Semua peri beramai-ramai mengikutinya, tapi
tidak dengan Nala.
“Pulanglah
ke kerajaan peri nala, ikutlah terbang, jangan takut ketinggian lagi” bujuk
mark si tupai hutan sahabat Nala.
“Aku tidak
takut ketinggian, Mark. Aku takut jatuh.” jawab nala sambil tertawa renyah.
“Kau
tidak akan jatuh”
Mark tidak
hentinya membujuk nala dari tahun ke tahun agar nala berani terbang. Aku harus berhasil membujuk peri nala,
pikirnya. Setelah hampir seharian membujuk Nala yang keras kepala, mark hampir
menyerah.
“Tuhan memberikanmu
sayap untuk terbang, jika pemberian Tuhan hanya membuatmu menjadi seorang
penakut seperti ini, mungkin ia akan sedih... Kau tidak ingin bukan membuat
Tuhan bersedih?” ujar Mark.
Hening...
“Peri nala, bahkan aku yang tupai saja iri
denganmu yang mempunyai sayap indah seperti itu.. jangan terlalu takut,
sekali-kali kau perlu menunjukkan bahwa kau tidak akan sia-sia terlahir menjadi
seorang Peri..” lanjutnya.
Kali ini
air mata nala tak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya, memecah sunyi
malam di hutan. Nala mengerti sekali apa yang dikatakan Mark, tapi bagaimanapun
ia tak juga bisa ikut terbang.
Nala menyeka
air matanya yang tumpah, selang beberapa menit kemudian, ia tersenyum dan
berkata pada mark..
“Kau mau
kuceritakan sebuah kisah?”
“Apa
itu?”
Nala menarik
nafas panjang, lalu bercerita...
“Ketika aku
kecil, semesta bertanya apa mimpiku.. Aku menjawab “aku ingin terbang, bisakah
aku terbang sekarang?” dan aku diberikan kesempatan untuk terbang.”
“Dan kau
bisa terbang?” tanya mark penasaran.
“Tentu
saja aku bisa terbang, aku sudah beberapa kali ikut festival terbang. Aku adalah
peri termuda yang sangat pandai terbang. Tidak ada yang mengalahkanku. Semua orang
bangga padaku”
“Lantas
apa yang terjadi?”
“12 tahun yang lalu, aku mengalami sebuah
kecelakaan yang membuat sayapku rusak total..” Nala tersenyum getir mengingat
betapa menyakitkannya kejadian itu.
“Jika
memang seperti itu, bagaimana dengan sayapmu yang sekarang?”
“Hahaha...
tentu saja ini sayap buatan yang menyerupai sayapku yang dulu mark. Kau tau? Aku
ini bukan hanya peri yang penakut, aku bukan hanya peri yang tak pandai
terbang, tapi aku juga peri yang telah putus asa.”
Mark terdiam.
Ia kalah dan kehabisan kata. Ia tak pernah menyangka bahwa peri nala yang
cantik dan ceria, ternyata menyimpan luka dibalik ketakutannya.
“Mark,
jangan katakan cerita ini pada siapa-siapa, biar cerita ini menjadi rahasia, biar saja mereka mengejekku sebagai Peri yang tak tau diri”
#belajarnuliscerpen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar