Jumat, 27 Maret 2015

Dongeng Patah Hati



Di suatu lembah, berdirilah sebuah kerajaan peri yang makmur. Para peri disana suka sekali terbang, tapi ada satu peri yang setiap hari hanya duduk terdiam dipinggir danau, banyak peri-peri muda yang memanggilnya peri pemalas. Peri nala namanya.

Tidak ada yang berbeda dari Nala, malah bisa dikatakan dia adalah salah satu peri yang punya sayap tercantik di kerajaan itu. Ia bukanlah peri pemalas, dia hanya seorang peri yang penakut.  Karena itu, ia hanya bisa berjalan-jalan dengan kaki menyusuri hutan-hutan, bahkan bercanda gurau dengan teman-temannya yang kebanyakan hewan liar. Ia lebih suka seperti itu daripada bergaul dengan peri-peri lain.

Tetua kerajaan telah mengumumkan bahwa akan ada festival untuk merayakan kemenangan yang selalu diadakan setiap tahunnya. Semua peri beramai-ramai mengikutinya, tapi tidak dengan Nala.

“Pulanglah ke kerajaan peri nala, ikutlah terbang, jangan takut ketinggian lagi” bujuk mark si tupai hutan sahabat Nala.

“Aku tidak takut ketinggian, Mark. Aku takut jatuh.” jawab nala sambil tertawa renyah.

“Kau tidak akan jatuh”

Mark tidak hentinya membujuk nala dari tahun ke tahun agar nala berani terbang. Aku harus berhasil membujuk peri nala, pikirnya. Setelah hampir seharian membujuk Nala yang keras kepala, mark hampir menyerah.

“Tuhan memberikanmu sayap untuk terbang, jika pemberian Tuhan hanya membuatmu menjadi seorang penakut seperti ini, mungkin ia akan sedih... Kau tidak ingin bukan membuat Tuhan bersedih?” ujar Mark.

Hening...

“Peri nala, bahkan aku yang tupai saja iri denganmu yang mempunyai sayap indah seperti itu.. jangan terlalu takut, sekali-kali kau perlu menunjukkan bahwa kau tidak akan sia-sia terlahir menjadi seorang Peri..” lanjutnya.

Kali ini air mata nala tak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya, memecah sunyi malam di hutan. Nala mengerti sekali apa yang dikatakan Mark, tapi bagaimanapun ia tak juga bisa ikut terbang.

Nala menyeka air matanya yang tumpah, selang beberapa menit kemudian, ia tersenyum dan berkata pada mark..

“Kau mau kuceritakan sebuah kisah?”

“Apa itu?”

Nala menarik nafas panjang, lalu bercerita...

“Ketika aku kecil, semesta bertanya apa mimpiku.. Aku menjawab “aku ingin terbang, bisakah aku terbang sekarang?” dan aku diberikan kesempatan untuk terbang.”

“Dan kau bisa terbang?” tanya mark penasaran.

“Tentu saja aku bisa terbang, aku sudah beberapa kali ikut festival terbang. Aku adalah peri termuda yang sangat pandai terbang. Tidak ada yang mengalahkanku. Semua orang bangga padaku”

“Lantas apa yang terjadi?”

 “12 tahun yang lalu, aku mengalami sebuah kecelakaan yang membuat sayapku rusak total..” Nala tersenyum getir mengingat betapa menyakitkannya kejadian itu.

“Jika memang seperti itu, bagaimana dengan sayapmu yang sekarang?”

“Hahaha... tentu saja ini sayap buatan yang menyerupai sayapku yang dulu mark. Kau tau? Aku ini bukan hanya peri yang penakut, aku bukan hanya peri yang tak pandai terbang, tapi aku juga peri yang telah putus asa.”

Mark terdiam. Ia kalah dan kehabisan kata. Ia tak pernah menyangka bahwa peri nala yang cantik dan ceria, ternyata menyimpan luka dibalik ketakutannya.

“Mark, jangan katakan cerita ini pada siapa-siapa, biar cerita ini menjadi rahasia, biar saja mereka mengejekku sebagai Peri yang tak tau diri”



#belajarnuliscerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar