Saya
perempuan yang mengenakan jilbab. Tentang akhlak, saya bukanlah perempuan yang
mempunyai iman dan taqwa yang super religius. Saya perempuan yang biasa-biasa
saja. Seringkali saya tidak memakai jilbab ketika berada di lingkungan sekitar
rumah, seringkali saya berdekatan dengan laki-laki yang bukan mukhrim,
seringkali saya menonton film-film drama yang penuh adegan mesra, seringkali
saya berfikiran jahat dan berperilaku buruk terhadap orang lain, seringkali
saya berkata kotor dan berbicara di luar kontrol, seringkali saya menyukai hal-hal
yang kontras dengan image jilbab yang saya pakai, dan banyak lagi gambaran di diri
saya yang bukan mencerminkan wanita berjilbab nan soleha. Saya tidak sedang
membanggakan semua itu karena hal itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan,
saya hanya menuturkan bahwa betapapun saya menjaga aurat, saya tetap melakukan
apa yang saya ingin lakukan dengan batas normal sebagai manusia yang punya
kebebasan dan sebagai seorang perempuan.
Banyak
sekali orang di belahan bumi ini yang mengaku dirinya alim, namun meneriaki
orang lain paling berdosa seakan dirinya sendiri suci tak punya cela. Percaya
atau tidak, tulisan saya ini pasti akan ada saja yang mencela. Pasti ada saja
yang menganggap saya salah. Saya tidak terlalu peduli dengan omongan negatif
orang lain tentang saya selama saya yakin tidak melakukan kesalahan yang
merugikan orang lain. Terlahir di dalam keluarga yang demokrasi, membentuk saya
sebagai anak yang bebas dalam berfikir. Oleh karena itu semakin saya dewasa,
semakin banyak yang saya lalui, pemikiran saya jauh lebih luas tanpa batas.
Awalnya
ketika pertama kali berjilbab, saya adalah seorang gadis remaja yang kolot dan
sok-sokan alim mengajak teman-teman saya untuk berjilbab, dan marah sekali
ketika ada yang bilang “aku belum siap pakai jilbab”, kalau dipikir-pikir saya
yang dulu adalah orang yang terlalu naif. Lalu dengan seiring berjalannya
waktu, saya menyadari satu hal, bahwa setiap orang berhak menjalani apa yang
dia ingin, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya. Semua orang
diberikan kebebasan untuk memilih.
Ketika
seseorang memutuskan pilihan seperti misal melepas jilbab atau berpindah agama,
orang-orang sibuk menghakiminya sebagai orang kafir tanpa tau alasan yang
sebenarnya, mereka hanya berpikir bahwa yang ia lakukan adalah dosa besar. Siapa
yang tau kalau ia bermalam-malam meminta petunjuk Tuhan untuk keputusannya,
siapa yang tau kalau ia berhari-hari berperang batin sampai badannya kurus
kering untuk menemukan jati dirinya, siapa yang tau kehidupan sesak yang ia
lalui sebelum keputusan yang diambilnya? Tapi orang-orang yang berfikiran
sempit seakan tidak mau tau, mereka bahkan tidak menyadari telah mendzalimi
jiwa seseorang. Mereka lupa bahwa
moralitas tidak lebih penting dari kemanusiaan.
Sungguh
aneh namun itulah yang selalu terjadi. Tidak semua orang bisa saling memahami. Lalu
yang akan selalu menjadi pertanyaan sekarang adalah; bisakah sekarang kita
sama-sama belajar untuk menghormati setiap keputusan masing-masing orang dan
membebaskan mereka untuk tenang dengan pilihannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar