Rabu, 11 Maret 2015

Perkara Kebebasan


Saya perempuan yang mengenakan jilbab. Tentang akhlak, saya bukanlah perempuan yang mempunyai iman dan taqwa yang super religius. Saya perempuan yang biasa-biasa saja. Seringkali saya tidak memakai jilbab ketika berada di lingkungan sekitar rumah, seringkali saya berdekatan dengan laki-laki yang bukan mukhrim, seringkali saya menonton film-film drama yang penuh adegan mesra, seringkali saya berfikiran jahat dan berperilaku buruk terhadap orang lain, seringkali saya berkata kotor dan berbicara di luar kontrol, seringkali saya menyukai hal-hal yang kontras dengan image jilbab yang saya pakai, dan banyak lagi gambaran di diri saya yang bukan mencerminkan wanita berjilbab nan soleha. Saya tidak sedang membanggakan semua itu karena hal itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, saya hanya menuturkan bahwa betapapun saya menjaga aurat, saya tetap melakukan apa yang saya ingin lakukan dengan batas normal sebagai manusia yang punya kebebasan dan sebagai seorang perempuan.

Banyak sekali orang di belahan bumi ini yang mengaku dirinya alim, namun meneriaki orang lain paling berdosa seakan dirinya sendiri suci tak punya cela. Percaya atau tidak, tulisan saya ini pasti akan ada saja yang mencela. Pasti ada saja yang menganggap saya salah. Saya tidak terlalu peduli dengan omongan negatif orang lain tentang saya selama saya yakin tidak melakukan kesalahan yang merugikan orang lain. Terlahir di dalam keluarga yang demokrasi, membentuk saya sebagai anak yang bebas dalam berfikir. Oleh karena itu semakin saya dewasa, semakin banyak yang saya lalui, pemikiran saya jauh lebih luas tanpa batas.

Awalnya ketika pertama kali berjilbab, saya adalah seorang gadis remaja yang kolot dan sok-sokan alim mengajak teman-teman saya untuk berjilbab, dan marah sekali ketika ada yang bilang “aku belum siap pakai jilbab”, kalau dipikir-pikir saya yang dulu adalah orang yang terlalu naif. Lalu dengan seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu hal, bahwa setiap orang berhak menjalani apa yang dia ingin, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya. Semua orang diberikan kebebasan untuk memilih.

Ketika seseorang memutuskan pilihan seperti misal melepas jilbab atau berpindah agama, orang-orang sibuk menghakiminya sebagai orang kafir tanpa tau alasan yang sebenarnya, mereka hanya berpikir bahwa yang ia lakukan adalah dosa besar. Siapa yang tau kalau ia bermalam-malam meminta petunjuk Tuhan untuk keputusannya, siapa yang tau kalau ia berhari-hari berperang batin sampai badannya kurus kering untuk menemukan jati dirinya, siapa yang tau kehidupan sesak yang ia lalui sebelum keputusan yang diambilnya? Tapi orang-orang yang berfikiran sempit seakan tidak mau tau, mereka bahkan tidak menyadari telah mendzalimi jiwa seseorang. Mereka lupa bahwa moralitas tidak lebih penting dari kemanusiaan.

Sungguh aneh namun itulah yang selalu terjadi. Tidak semua orang bisa saling memahami. Lalu yang akan selalu menjadi pertanyaan sekarang adalah; bisakah sekarang kita sama-sama belajar untuk menghormati setiap keputusan masing-masing orang dan membebaskan mereka untuk tenang dengan pilihannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar